Tampilkan postingan dengan label Alokasi Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alokasi Keuangan. Tampilkan semua postingan

Tips Memilih Sekuritas untuk Investasi Saham

Selamat datang kembali di manusiagabut.site. Semoga teman - teman masih dalam keadaan sehat ya terutama selama masa pandemi ini. Nah bicara soal pandemi, mungkin sebagian besar dari kita belakangan ini sering mendengar kabar "jumlah investor saham lokal meningkat selama pandemi", "sekarang waktu yang tepat untuk mulai investasi saham", "harga saham sedang jatuh, bisa dicicil nih sekarang", atau mungkin berita - berita sejenis lainnya. Pastinya ada beberapa di antara kita yang langsung tertarik ingin mempelajari dunia saham kan? 

 memilih sekuritas saham

Nah jika ada di antara kalian yang sudah memutuskan untuk ikut terjun ke dunia saham, hal pertama yang kalian tanyakan pastilah bagaimana cara membeli saham? bener ngga?. Nah jawabannya adalah melalui Perusahaan Sekuritas atau Broker Saham atau Pialang Saham. Sekuritas ini sendiri adalah perusahaan yang memfasilitasi kamu untuk bisa melakukan jual beli di pasar modal. Jadi Sekuritas ini hanyalah perantara saja ya, bukan yang memegang uang kamu. Uangmu akan disimpan di bank sesuai pilihan Sekuritas itu sendiri dan pada akhirnya kamu akan memiliki Rekening Dana Nasabah (RDN) atau sering juga disebut Rekening Dana Investor (RDI). Dari rekening inilah nantinya kamu bisa melakukan pembelian saham.

Lalu apa saja sih yang perlu dipertimbangkan dalam memilih Perusahaan Sekuritas? Nah inilah dia Tips Memilih Perusahaan Sekuritas untuk Investasi saham.

Tips Pertama: Izin yang Legal

Hal pertama yang harus kalian pastikan adalah, Perusahaan Sekuritas tersebut sudah memiliki izin operasi yang legal di pasar modal Indonesia. Bagaimana cara mengeceknya? kalian bisa buka website www.idx.co.id kemudian pilih menu Investor dan pilih Sekuritas di Kota Anda. Silahkan sesuaikan pilihan dengan list yang diberikan. Tapi sayangnya website idx.co.id ini sering error, saya juga ngga paham kenapa. Tenang masih ada cara kedua yaitu dengan mengecek izin OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

izin legal

Cara lainnya adalah dengan mengecek izinnya di OJK. Buka website www.ojk.go.id lalu pada menu Statistik pilih Data Perusahaan Efek. Silahkan cek Perusahaan Sekuritas yang kalian inginkan apakah sudah terdaftar :)

Tips Kedua: Perhatikan Minimum Setoran Awal

Hal kedua ini biasanya sangat perlu untuk masyarakat yang masih awam, dan modalnya sedikit atau mungkin baru mau mencoba terjun ke dunia saham. Beberapa Perusahaan Sekuritas biasanya menerapkan minimum setoran awal pada RDI-nya. Seperti misalnya Sekuritas swasta paling terkenal yaitu Mirae Asset Sekuritas menerapkan setoran awal minimum 10 juta, sedangkan Sekuritas dari BUMN seperti BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas menerapkan setoran awal sekitar 1 juta rupiah. 

Gimana? lumayan besar ya, terutama untuk pemula dengan modal yang sedikit. Tapi tenang, belakangan ini sudah ada beberapa Sekuritas swasta baru yang memberikan setoran awal minimum 100 ribu rupiah saja. Silahkan searching sendiri ya :) Tapi ada juga kabar yang menyatakan kalau beberapa Sekuritas besar bisa memberikan potongan setoran awal, biasanya khusus mahasiswa gitu sih. Kalau ini bisa hubungi CS nya langsung ya.


Tips Ketiga: Fee Transaksi

Yap! yang namanya menggunakan jasa orang lain pastinya ada biaya transaksinya kan. Namanya adalah Fee Transaksi. Fee ini biasanya wajib kita bayarkan pada saat melakukan pembelian dan penjualan saham, tentunya fee jual dan belinya berbeda. Saat ini rata - rata fee transaksi terendah bernilai 0.15% (Beli) dan 0.25% (Jual). Rata - rata Perusahaan Sekuritas yang memiliki fee tersebut adalah Sekuritas swasta, untuk Sekuritas dari Bank BUMN biasanya bernilai 0.17% dan 0.27%.

fee transaksi

Mungkin memang terlihat sedikit ya? Tapi kalau misalnya kalian sering melakukan transaksi ya pasti akan terasa kok. Oh iya jangan lupa, kalau kalian ingin menjual saham kalian untuk mengambil keuntungan jangan lupa perhatikan agar kedua fee transaksi ini sudah tertutupi ya :)


Tips Keempat: Kemudahan Membuat Rekening

Hal ini sangat penting terutama untuk kamu yang waktunya hanya sedikit, ataupun emang dasarnya males aja gitu kan. Di zaman yang serba digital ini tentu kita ingin segalanya lebih cepat dan efisien kan? nah maka dari itu lebih baik cari Perusahaan Sekuritas yang pelayanannya bisa dilakukan dari jarak jauh, baik dari proses pembukaan rekening, sampai pelayanan Customer Servicenya. Pastinya males dong kalau misal harus bolak - balik kantornya hanya untuk membuka rekening RDI misalnya.

Saat ini, terutama semenjak pandemi sudah banyak juga kok Perusahaan Sekuritas yang menyediakan pelayanan pembukaan rekening full secara online, seperti BNI Sekuritas dan MNC Sekuritas. Paling banter hanya perlu mengirim beberapa berkas saja (ini pun sudah jarang).


Tips Kelima: Fasilitas yang Diberikan

Menurutku tips ini juga cukup penting terutama untuk pemulda dan masyarakat awam ya. Jadi kalau bisa usahakan untuk memilih Perusahaan Sekuritas yang memberikan fasilitas tambahan seperti Training/Seminar Pasar Modal secara berkala. Ini penting banget agar strategi kita bisa lebih matang dalam melakukan transaksi (a.k.a Meminimalisir kerugian).

Finance workshop

Selain itu perhatikan pula fitur dari aplikasi Trading yang disediakan, misalnya seperti laporan keuangan, chart baik harian hingga tahunan, portal berita, fitur autobuy/autosell, dan fitur lainnya yang dapat memudahkan analisis dan transaksi.


Nah itulah dia Tips Memilih Perusahaan Sekuritas untuk Investasi saham. Silahkan dicek dengan baik ya, jangan sampai ada penyesalan setelah terlanjur memilih Perusahaan Sekuritas yang kurang tepat buat kamu. Last but not least, semoga cuan selalu ya :)




Cara-Cara Alokasi Uang Berdasarkan Besaran Gaji/Penghasilan


Metode Budgeting

Hai guys, selamat datang kembali di manusiagabut.site. Nah di artikel sebelumnya kita udah pernah bahas nih tentang gimana caranya menerapkan prinsip LSP (Living, Saving Playing) untuk mengatur keuangan kita. Namun seperti yang sudah disebutkan di artikel tersebut, kalau prinsip LSP lebih cocok jika diterapkan oleh kita yang memiliki pemasukan diatas UMP atau bisa kita katakan diatas penghasilan 5 juta rupiah. Lalu untuk penghasilan yang tergolong dibawah ataupun diatas UMP tersebut, bagaimana cara alokasi keuangan yang cocok?. Nah untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan ulas melalui artikel ini. Di artikel kali ini, aku akan bantu kalian memberikan gambaran metode alokasi keuangan yang cocok untuk kalian terapkan berdasarkan besaran penghasilan atau gaji secara umum. 

Mengapa perlu menerapkan metode alokasi uang berdasarkan perbedaan jumlah penghasilan?


Metode alokasi keuangan

Berdasarkan sumber refrensi dari ZAP Finance, sebenarnya terdapat tiga metode alokasi keuangan yang bisa kalian coba berdasarkan berapa jumlah pemasukan/penghasilan/gaji yang kalian dapatkan per bulannya. Aku sendiri udah pernah nyoba dan berhasil satu dari tiga metode yang ada. Lalu kenapa sih kita perlu menggunakan metode yang berbeda-beda untuk mengatur alokasi keuangan yang disesuaikan dengan besaran penghasilan?. Jawabannya simpel banget, yaitu untuk menghindari over budgeting atau less budgeting. Maksudnya adalah jangan sampai metode budgeting yang kita gunakan justru pada akhirnya akan menjerumuskan kita entah itu membuat anggaran kita setiap bulannya melebihi kemampuan penghasilan yang kita miliki (over budgeting) ataupun justru sebenarnya kita sebenarnya masih bisa memaksimalkan penggunaan uang yang kita miliki setiap bulannya seperti untuk menabung atau investasi, namun tidak kita lakukan karena ternyata menggunakan metode budgeting yang tingkatannya lebih rendah dibandingkan dengan posisi penghasilan kita saat ini. Nah oleh karena itu untuk memaksimalkan seluruh penghasilan yan kita miliki untuk kebutuhan hidup dan hal-hal bernilai lainnya, maka diperlukan metode budgeting yang tepat nih. Yuk langsung saja kita bahas satu per satu metodenya yaa.

  1. Commitment Budgeting
    Commitment budgeting merupakan metode alokasi uang yang direkomendasikan untuk penghasilan atau gaji minimal senilai UMP atau dibawah 5 juta rupiah. Sesuai dengan namanya, metode commitment budgeting ini menerapkan prinsip hanya dengan membagi penghasilan atau uang kedalam dua kategori besar. Yaitu pertama untuk berbagai kegiatan yang kita komitmenkan untuk dilakukan serta yang kedua adalah untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan simpan menyimpan uang (saving). Kenapa tidak ada anggaran atau alokasi uang untuk bersenang-senang?, karena proses menyenangkan diri sendiri dianggap sebagai prioritas terakhir. Dengan penghasilan yang terbatas ini, alangkah lebih baik jika kita terlebih dahulu menggunakan uang yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting, dan tentunya pilihan untuk menyenangkan diri sendiri bukanlah pilihan yang terlalu penting dan mendesak untuk dilakukan.

    Adapun tidak ada aturan khusus apa-apa saja kegiatan yang dikelompokkan sebagai kegiatan
    commitment dan kegiatan saving. Masing-masing diserahkan kepada kalian nih, tentunya yang harus disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing yaa. Nah biasanya, kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam kategori commitment adalah kegiatan-kegiatan dalam rangka pemenuhan seluruh kebutuhan primer dan sedikit kebutuhan sekunder. Contoh-contoh beberapa kegiatan yang dapat dimasukkan kedalam kategori commitment ini adalah seperti makan, minum, biaya sewa tempat tinggal dan segala keperluan rumah tangga bulanan, biaya transportasi serta kebutuhan penunjang pekerjaan atau kehidupan sehari-hari lainnya seperti pembelian pulsa atau kuota internet untuk memperlancar proses komunikasi. Nah kalau kalian misalnya ingin juga mengalokasikan uang kalian untuk bersenang-senang, sebenarnya sah-sah aja kok untuk dimasukkan kedalam kategori commitment ini. Namun ingat ya guys, JANGAN BERLEBIHAN hehe. Untuk kegiatan yang terkategori commitment bagi kalian, maka persentase uang yang harus kalian alokasikan kedalamnya adalah sebesar 75% dari total penghasilan atau pemasukan yang kalian dapatkan setiap bulannya.
     

    Kemudian, sisanya sebesar 25%, dialokasikan untuk berbagai kegiatan saving atau penyimpanan uang. Nah berbagai kegiatan saving yang bisa kalian lakukan bisa dalam bentuk tabungan biasa, deposito, tabungan berjangka, reksadana, saham, dana darurat, ataupun bentuk simpan menyimpan uang yang lainnya

  2. Simple Budgeting
    Metode budgeting yang kedua adalah simple budgeting atau yang biasa kita sebut sebagai prinsip LSP (Living, Saving, Playing). Metode budgeting ini direkomendasikan untuk kalian yang merasa memiliki gaji diatas UMP atau diatas 5 juta rupiah yang dirasa merupakan angka penghasilan yang sudah mencukupi dan layak untuk membaginya menjadi tiga alokasi besar. Sesuai dengan namanya, menggunakan metode simple budgeting ini, alokasi penghasilan yang kita dapat dibagi menjadi 3 alokasi besar yaitu untuk kegatan yang tergolong dalam kategori Living, Saving, ataupun Playing dengan persentase masing-masingnya adalah 50% alokasi untuk Living, 30% untuk kegiatan Saving, dan sisanya yaitu 20% untuk berbagai kegiatan Playing versi kalian. Nah persentasenya bisa kalian ubah-ubah nih sesuai dengan prioritas dan kepentingan kalian asalkan tetap memegang prinsip bahwa alokasi untuk Living harus lebih besar dibandingkan dengan dua lainnya yaitu Saving dan Playing. Sedangkan alokasi untuk Saving harus lebih besar dibandingkan untuk Playing. Sehingga persentase alokasi untuk kegiatan Playing menjadi paling kecil. Untuk penjelasan lebih lengkapnya mengenai prinsip LSP ini, kalian bisa baca di artikel kita yang satu ini Prinsip LSP (Living, Saving, Playing). Di artikel tersebut, kalian akan mendapat gambaran lebih jelas mengenai prinsip LSP ini.

  3. Value Based Budgeting
    Nah metode budgeting yang ketiga sekaligus yang terakhir dinamakan sebagai metode value based budgeting dimana prinsip utamanya adalah kita mengalokasikan uang atau penghasilan yang kita miliki dengan memengang pondasi utama yaitu "ada hal yang ingin dicapai". Misalnya seperti ini, dalam tiga tahun kedepan, kalian ingin mengalokasikan seluruh penghasilan bulanan kalian agar dalam tiga tahun kedepan kalian bisa membeli sepeda motor seharga 20 juta rupiah. Nah dari sinilah kalian nge-breakdown seluruh penghasilan kalian agar alokasi kalian tepat dan menghasilkan 20 juta rupiah diakhir tahun ketiga tersebut. Karena target yang ingin dicapai adalah 20 juta rupiah dalam waktu 3 tahun (36 bulan), maka per bulannya setidaknya kalian harus menabung atau menyimpan uang (saving) senilai 600 ribu rupiah. Dari sini maka minimal alokasi uang kalian untuk saving adalah senilai 600 ribu rupiah. Kemudian barulah sisanya kalian bagi-bagi sisa uang penghasilan kalian kedalam kegiatan Living dan Playing ataupun langsung mengkategorikannya kedalam kegiatan commitment seperti metode commitment budgeting. Simpel banget sebenarnya asalkan kalian memang benar-benar mampu disiplin dalam menjalaninya.

Apakah metode budgeting yang dipilih harus berpaku pada jumlah penghasilan yang dimiliki?


Free

Well, jawabannya tidak. Aku sendiri pribadi hanya merekomendasikan metode budgeting yang cocok untuk setiap besaran penghasilan atau gaji yang kalian dapat. Tentunya dengan alasan utama adalah untuk menghindari over budgeting ataupun less budgeting seperti yang sudah aku bilang sebelumnya. Tapi misalkan nih, kalian masih memiliki penghasilan dibawah UMP namun tetap ngotot untuk mencoba metode Simple Budgeting, ya sah-sah saja sih. Namun jangan sampai nanti ternyata kalian tidak bisa melaksanakan apa yang sudah kalian rencanakan atau alokasikan. Karena sebenarnya hal tersulit dalam metode budgeting atau mengatur alokasi keuangan ini adalah saat proses pelaksanaan atau implementasinya. Jadi semuanya terserah kalian namun harus tetap dipikirkan matang-matang.

Oke sekian dulu bahasan mengenai jenis-jenis alokasi uang (budgeting) berdasarkan besaran gaji /penghasilan yang kalian miliki. Semoga bermanfaat yaa. Tunggu terus artikel-artikel selanjutnya. Terimakasih sudah membaca :)

Prinsip LSP (Living, Saving, Playing) untuk Kehidupan Finansial yang Lebih Baik

Alokasi Keuangan

"Aku mau nabung nih, mau investasi buat masa depan..., tapi pengen jalan-jalan juga. Pengen nonton ke bioskop tiap bulan, pengen hidup dengan nyaman juga. Gimana caranya ya?"

Pernah gaksih kalian punya pikiran-pikiran diatas? pengen banget menikmati hidup dengan layak dan nyaman tapi juga pengen nabung atau investasi sejak dini?. Kalau pernah, pasti pernah pula terbersit di pikiran kalian bahwa semua hal tersebut diatas tidak akan pernah mungkin kalian lakukan sekaligus secara beriringan. Karena memang kenyataannya biasanya kita melihat bahwa kalau ada orang yang berinvestasi atau menabung dengan giat, maka sudah dapat dipastikan bahwa orang tersebut setidaknya melakukan penghematan dalam hidupnya. Tapi, paradigma ini tidak selalu benar loh, masih ada juga yang bisa berinvestasi dengan baik namun juga bisa menikmati hidup dengan layak. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan prinsip LSP (Living, Saving, Playing) dalam mengatur kehidupan finansial kalian. Kalau kalian penasaran, langsung saja yuk simak berikut merupakan ulasannya.

Apa sih yang dimaksud dengan prinsip LSP?


Prinsip LSP (Living, Saving, Playing)


Sederhananya, LSP merupakan salah satu prinsip dalam budgeting yang disebut sebagai simple budgeting. Prinsip ini dikemukakan oleh ZAP Finance dimana simple budgeting melalui prinsip LSP ini biasanya diterapkan untuk orang-orang atau kalian yang merasa memiliki penghasilan minimum sebesar penghasilan UMP. Kalau penghasilan kalian dibawah ini, maka kalian bisa baca artikel kita yang lain ya yang membahas bagaimana mengatur alokasi keuangan sesuai dengan besaram gaji. Lanjut lagi, sesuai dengan namanya, sistem kerja dari prinsip LPS ini adalah dengan membagi pemasukan atau dalam hal ini adalah gaji yang kita miliki kedalam 3 alokasi besar. Yaitu Living (kehidupan primer), Saving (tabungan, investasi, dan lain sebagainya), serta Playing (untuk keperluan membahagiakan diri sendiri). Tentunya jumlah alokasi dana pada setiap living, saving, maupun playing ini akan berbeda-beda bergantung pada prioritas atau tingkat kepentingan.

Nah kemudian balik lagi ke bahasan sebelumnya, kenapa sih harus penghasilan diatas UMP dulu baru bisa menerapkan prinsip LSP ini?. Jawabannya simpel banget. Karena kalau kalian memiliki penghasilan dibawah UMP, maka alokasi untuk Playing bukan menjadi pilihan. Secara logika seperti ini, anggap saja untuk biaya kehidupan primer kalian dalam satu bulan saja kalian perlu 2 hingga 3 juta rupiah. Kemudian terdapat kewajiban lain seperti membayar cicilan, sewa kost, dan lain sebagainya yang perlu kalian penuhi. Sehingga akan sangat sulit untuk mengalokasikan dana secara khusus untuk kegiatan Playing. Namun bukan berarti kalian tidak boleh menikmati hidup seperti pergi ke mall, nonton bioskop atau yang lainnya ya. Hanya saja alokasi uang untuk Playing ini kalian gabung dengan kebutuhan lainnya. Sehingga memang uang yang bisa kalian gunakan untuk Playing ini akan menjadi sangat terbatas

Bagaimana cara mengalokasikan uang dengan prinsip LSP ini?

Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya bahwa alokasi uang untuk prinsip LSP ini simpel banget. Tinggal membagi uang kalian kedalam tiga kategori yaitu Living, Playing, dan Saving. Lalu berapa persentase alokasi untuk masing-masingnya?, berikut merupakan ulasan lengkapnya


Living 

Siklus Living

Living sendiri dalam hal ini diartikan sebagai segala kegiatan atau hal yang menunjang kehidupan sehari-hari kita seperti makan, dan lain sebagainya. Dalam prinsip LSP ini, alokasi dana untuk Living sendiri dibatasi sebesar 50% dari total penghasilan bulanan kita. Jadi kalau penghasilan kita sebesar 5 juta rupiah, maka alokasi dana untuk living adalah sebesar 2,5 juta rupiah. Dengan begini, kalian harus mengusahakan bagaimana caranya agar uang 2,5 juta rupiah ini dapat kalian maksimalkan penggunaannya dan sekaligus belajar mengatur keuangan kalian.

Saving

Menabung (Saving)

Sesuai dengan namanya, Saving sendiri merupakan alokasi dana untuk segala sesuatu kegiatan yang kalian lakukan terkait penyimpanan uang. Baik itu investasi, tabungan, deposito, dan lain sebagainya. Biasanya sih sekarang kebanyakan yang mengalokasikan uang untuk Saving ini kedalam berbagai jenis investasi. Karena selain menghasilkan return lebih tinggi, investasi juga memiliki berbagai macam jenis yang bisa kalian sesuaikan dengan tingkat risiko, keinginan, dan kemampuan kalian. Oiya, dana darurat juga termasuk kedalam alokasi Saving yaa. Kalau kalian mau lebih tau mengenai apa itu dana darurat, kalian bisa baca di artikel ini Dana Darurat Sebelum Investasi? Apakah Penting?. Adapun  kemudian alokasi uang untuk Saving ini biasanya adalah sekitar 30% dari total penghasilan atau gaji yang kalian dapatkan per bulannya. Jadi kembali lagi kalau kalian memiliki penghasilan 5 juta rupiah per bulan, maka alokasi uang yang boleh kalian gunakan untuk kegiatan Saving ini adalah sebesar 1,5 juta rupiah.

Playing

Playing

Nah akhirnya kita sampai pada hal yang memang menjadi dilema semua orang. Tidak bisa dipungkiri kita semua pasti ingin menikmati hidup dan bersenang-senang. Oleh karenanya, alokasi dana untuk Playing ini khusus diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan untuk membahagiakan diri atau menikmati hidup. Namun karena bersifat bukan kebutuhan primer maupun sekunder, maka tetap alokasi dana untuk Playing ini harus dibatasi dan memiliki nilai persentase alokasi terkecil. Adapun alokasi dana yang diberikan untuk Playing adalah sebesar 20% atau setara dengan 1 juta rupiah. 

Kegiatan apa saja yang dikategorikan untuk setiap Living, Saving, maupun Playing?

Walaupun sudah tahu betul bagaimana prinsip LSP ini berlangsung, namun kalau kalian tidak bisa mengenali dan membedakan apa-apa saja kegiatan yang termasuk kedalamnya, semua ilmu yang kalian dapatkan akan menjadi sia-sia. Nah untuk tahu kegiatan apa saja yang termasuk kedalam L, S, dan P, berikut merupakan ulasannya
  1. Living  : Nah yang dimaksud kegiatan living adalah seluruh kegiatan rumah tangga yang biasanya masuk kedalam kebutuhan primer maupun sekunder kalian. Contohnya seperti makan, minum, transportasi, dan komunikasi. Kalian juga bisa menambahkan kegiatan atau keperluan lain yang memang penting bagi kalian seperti pembelian skincare, bodycare, haircare dan lain sebagainya. Membayar kost, kontrakan, maupun cicilan juga termasuk kedalam biaya Living. Inilah mengapa alokasi biaya Living ini memiliki persentase terbesar
  2. Saving  : Untuk Saving sendiri, sudah sangat jelas bahwa didalamnya terdapat segala jenis hal atau kegiatan yang berhubungan dengan simpan menyimpan uang seperti investasi, dana darurat, tabungan, deposito, pembelian aset, dan lain sebagainya
  3. Playing : Nah untuk kegiatan Playing ini bisa kalian definisikan sendiri sesuai dengan gaya hidup kalian masing-masing. Karena memang masing-masing orang akan memiliki kegiatan yang berbeda-beda. Ada yang menghabiskan alokasi dana Playing mereka untuk kegiatan shopping, adventure seperti mendaki gunung, atau sekedar nongkrong minum kopi saja. Seluruhnya bisa dikategorikan sebagai kegiatan Playing tergantung bagaimana kalian mendefinisikan kenikmatan hidup atau kebahagiaan diri.

Apakah persentase alokasi yang disebutkan tadi bisa diubah-ubah?

Jika kalian memiliki pertanyaan diatas, jawabannya sudah pasti "bisa". Mungkin beberapa dari kalian misalnya menganggap alokasi uang untuk Saving terlalu kecil karena kalian merupakan tipe orang yang sangat suka berinvestasi, maka sah-sah saja jika kalian ingin menambahkan alokasi uang kalian untuk Saving. Atau kalian menganggap bahwa 50% untuk Living terlalu kecil, kalian juga bisa menambahkan alokasi untuk Living tersebut. Seluruhnya sah-sah saja dilakukan. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi adalah hirarki dari ketiganya. Kalau boleh aku gambarkan melalui piramida, maka Living berada pada bagian paling bawah, kemudian diikuti dengan Saving, lalu Playing berada di puncak piramida. Apa sih artinya?, jadi begini. Kegiatan yang berada pada tingkatan piramida terbawah, maka kegiatan tersebut harus memiliki alokasi dana terbesar dan harus terpenuhi terlebih dahulu. Karena Living berada paling bawah, maka alokasi dananya harus memiliki jumlah terbesar dibandingkan Saving dan Playing terlepas berapapun persentase yang kalian alokasikan. 

Begitu pula untuk Saving yang berada pada tingkatan kedua. Kalian harus mengalokasikan dana yang lebih rendah dibandingkan untuk kegiatan Living, namun harus lebih besar dibandingkan alokasi untuk Playing. Kemudian terakhir adalah Playing yang berada pada puncak piramida dimana alokasi dana untuk ini merupakan alokasi terkecil dan merupakan prioritas terendah dan pemenuhannya bisa dilakukan paling akhir setelah Living dan Saving terpenuhi.

Jadi gimana? gampang banget kan sebenarnya kalau kalian ingin mengikuti prinsip LSP ini. Semoga artikel mengenai prinsip Living, Saving, dan Playing ini bisa membantu kalian ya untuk mengatur alokasi pemasukan kalian dan tentunya dapat mencapai kehidupan finansial yang lebih baik. Sampai jumpa di artikel selanjutnya dan terimakasih sudah membaca :)